Flickr

» » » Demokrat dan PKS Terpopuler karena Kasus Hukum

(Wira, Jakarta) - Partai Demokrat dan PKS memenuhi pemberitaan di media sepanjang Ferbruari-Maret 2013. Hal itu dapat terlihat dari hasi riset media monitoring Februari-Maret 2013 yang diadakan Pol-Tracking Institute.

Pol-Tracking Institute diketahui melakukan riset media periode Februari-Maret 2013. Penelitian ini menggunakan metode purpose sampling 15 media yang terdiri dari 5 media cetak, 5 media online dan 5 media televisi.

Proses penyeleksian media didasarkan pada cakupan wilayah, rating online, berita di televisi serta kepemilikan media. Teknik pengumpulan data dengan menganalisa isi serta analisis sosiopolitik mengenai pemberitaan terkait tema berita partai politik dan calon presiden.

Direktur Eksekutif Pol Tracking Institute Hanta Yudha mengatakan secara umum menjelang musim pemilu partai lebih banyak disibukkan oleh agenda internal. Hal itu antara lain pemberitaan media soal konflil (25 persen) dan kasus hukum kader (22 persen) dibandingkan pelaksanaan dan optimalisasi fungsi partai secara keseluruhan seperti kegiatan partai (12 persen), kinerja partai (4 persen) dan kebijakan politik (19 persen).

Namun, selama Februari-Maret 2013 publik tersita oleh maraknya pemberitaan di media massa yang berasal dari Partai Demokrat maupun PKS. Hal itu bisa dilihat dari tingginya frekuensi berita untuk Partai Demokrat (59,4 persen) dan PKS (15,9 persen) serta disusul Partai Hanura (4,8 persen) dari total berita yang masuk dalam Pol-Tracking Institute sebanyak 6205 berita.

"Tingginya berita Demokrat diakibatkan munculnya polemik internal Demokrat setelah beredar pernyataan permintaan mundur Anas Urbaningrum dari kursi Ketua Umum oleh beberapa politisi senior Demokrat," kata Hanta dalam jumpa pers di Jakarta, Minggu (14/4/2013).

Hanta mengatakan permintaan mundur Anas itu karena jatuhnya elektabilitas Demokrat yang kemudian diambil alih oleh SBY melalui majelis tinggi. "Penetapan tersangka Anas dan penyelenggaraan KLB pada akhir Maret lalu. Sekuen politik tersebut terus memanas sejak awal Februaru dan tidak jarang menjadi headline pemberitaan," ujarnya.

Sedangkan PKS, kata Hanta, terkait penetapan mantan Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaaq sebagai tersangka KPK pada akhir Januari 2013 menjadi pemicu eskalasi pemberitaan negatif tentang PKS selama Februari. Kemudian diikuti pergantian Presiden PKS kepada Anis Matta. "Sosok Hidayat Nur Wahid dan Anis Matta yang paling banyak muncul dalam pemberitaan untuk meredam sentimen negatif media sekaligus menjaga soliditas partai," imbuh Hanta.

Hanta kemudian menyarankan agar peserta pemilu 2014 melakukan inovasi politik untuk menginisiasi hadirnya pemberitaan positif. Salah satunya, usul Hanta, dengan konvensi berpotensi akan disambut positif oleh media dan berfungsi untuk pencintraan positif secara gratis. "Sehingga pemberitaan negatif terkait kasus hukum atau konflik internal bisa diahlikan ke ide demokratisasi melalui konvensi," tukasnya.(***)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: