JAKARTA - Partai Golkar optimistis bisa memenangi Pemilu 2014 dengan perolehan suara terbanyak, 30 persen. Sebab, rakyat Indonesia, dari kota-kota sampai pelosok desa, diyakini merindukan partai berlambang beringin itu berkuasa kembali.
Demikian dikemukakan Wakil Bendahara DPP Partai Golkar Anton Sihombing dan Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Fadel Muhammad, di Jakarta, Selasa (1/10).
"Saya kira, semua kader partai yang ada di provinsi maupun kabupaten sampai ke desa-desa sudah bergerak sehingga Partai Golkar pasti menang. Bukan tidak mungkin perolehan suaranya lebih dari 30 persen," kata Anton Sihombing kepada Suara Karya, di gedung parlemen, Jakarta, Selasa (2/10).
Menurut Anton, Partai Golkar adalah parpol yang memiliki banyak kader serta berkualitas dalam berbagai bidang pembangunan. Di samping itu, mereka juga memiliki militansi yang tinggi.
"Jadi, karena mesin partai sudah bergerak, maka saya yakin pada Pemilu 2014, Golkar akan berjaya lagi," kata Anton.
Bahwa ada suara-suara yang berbeda menjelang Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Oktober mendatang, menurut dia, itu merupakan dinamika politik internal. Meski demikian, menurut Anton, hal itu tak akan menjadi pemicu perpecahan.
"Sebab, semua kader sudah dewasa dalam berpolitik. Makanya, saya mengimbau teman-teman yang sedang menyalurkan aspirasi politiknya itu, tidak membuat pernyataan di media. Kalau ada yang ingin disampaikan, baik masukan maupun keluhan, sampaikan saja langsung kepada pengurus," katanya.
Karena itu, Anton juga mengatakan, rapimnas tak akan mempersoalkan pencapresan Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie (ARB). Rapimnas, menurut dia, hanya akan membahas pemenangan pemilu legislatif (pileg) dan pemenangan pada pemilu presiden (pilpres).
Fadel Muhammad juga mengatakan, tak ada rencana DPP Partai Golkar mengevaluasi pencapresan ARB. "Tak akan ada evaluasi pada acara Rapimnas Golkar akhir Oktober yang akan datang. Baik elektabilitas ARB maupun kinerja tim pemenangan, akan terus didorong," katanya.
Sementara itu, anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar (FPG) Yorris Raweyai mengingatkan elite Partai Golkar untuk tetap memelihara tradisi demokrasi di internal partai guna menjaga eksistensi Partai Golkar.
"Demokrasi di internal Partai Golkar jangan sampai dimatikan. Apalagi menilai orang yang berbeda pandangan sebagai musuh. Ini berbahaya bagi partai. Saya protes keras soal ini," kata Yorris, yang juga Ketua DPP Partai Golkar, di Jakarta, Selasa (1/10).
Menurut dia, Partai Golkar adalah partai besar yang sudah eksis sejak Orde Baru. Jika salah satu elite partai menyampaikan kritik untuk kemajuan kemudian dianggap sebagai musuh, maka akan berbahaya bagi Partai Golkar.
Yorris mencontohkan kritik yang disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung soal kinerja partai dan elektabilitas calon presiden dari Partai Golkar Aburizal Bakrie. "Menurut saya, Akbar memberi masukan untuk kebaikan partai sehingga kritiknya harus dipertimbangkan," katanya.
Ketua DPP Partai Golkar ini mengakui memang ada faksionalisasi di internal Partai Golkar dan berkembang dinamis. "Faksi-faksi itu secara alamiah tentu ada. Tinggal bagaimana para pemimpin Partai Golkar mengelola faksi-faksi itu untuk menyinergikan dan memanfaatkannya bagi kepentingan partai," katanya.
Dalam konteks tersebut, Yorris mengusulkan agar suara pemimpin Partai Golkar tingkat kabupaten dan kota (DPD II) didengar dan diakomodasi dalam berbagai tingkat pertemuan serta memiliki hak suara dalam memutuskan sesuatu.
Posisi DPD II Partai Golkar, menurut Yorris, strategis karena menjelang pemilu legislatif dan pemilu presiden. DPD II Partai Golkar adalah ujung tombak dalam penjaringan basis massa dan suara.
"Kalaupun AD/ART Partai Golkar menyebutkan DPD II tidak memiliki hak suara, perlu dicarikan solusi untuk mengakomodasi aspirasinya," katanya.
Pada kesempatan itu, Yorris juga menanggapi paparan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Luhut Panjaitan soal dinamika di internal dan eksternal Partai Golkar.
"Pak Luhut diundang Fraksi Partai Golkar untuk menyampaikan hasil survei mengenai dinamika partai, baik di internal maupun di eksternal," katanya.
Yorris menjelaskan dalam paparan yang disampaikan Luhut Panjaitan, jika internal Partai Golkar terus konflik, maka potensi kehilangan suara pada Pemilu Legislatif 2014 akan besar, yakni mencapai lima persen.
Sebaliknya, jika di internal Partai Golkar solid, menurut dia, maka akan meningkatkan perolehan suara pada Pemilu Legislatif 2014. (pol)
Index Berita
Features
Opini
Tekno
Lingkungan
Topik Berita
Nasional
Hukum
Daerah
Politik
Ekbis
Capres
Pilpres
Kesehatan
Korupsi
Pendidikan
Tekno
Feature
Etalase
Galeri
Kriminal
Pemilu
Video
Hiburan
Internasional
Opini
Selebrita
Sosok
Teroris
Wisata
Caleg
Internet
KPK
Kolom
Lingkungan
Otomotif
Pilgub
Bali
Banten
Budaya
Jatim
Kesra
Lampung
Media
Samsung
Susno Duadji
TV
Ujian Nasional
Aceh
Ayu Azhari
Bandung
Bandung Raya
Bansos
Batam
Bill Clinton
Bogor
Buruh
Century
Dada Rosada
Densus 88
Djoko Susilo
E-ktp
Edi Siswadi
Facebook
Garuda
Gaya Hidup
Gerhana
Gmail
Golkar
Habibie
Hambalang
Harry Tanoesudibyo
Hepatitis
Honda
Iklan
Imunisasi
Jaksa
Jateng
Jawa Timur
Jeffry Al Buchory
KASAD
KPI
Kabupaten Bandung
Kejaksaan
Kudus
Letjen Moeldoko
Limau Gadang
Mazda
Mentawai
Militer
Mudik
Narkoba
OKU
Pekanbaru
Penganiayaan
Penyiaran
Pilwalkot
Polri
Ponorogo
Prabowo
Puskesmas
SIM
Serang
Sumsel
Sutarman
Suzuki
TNI
Tokoh
Twitter
UN
Udang
Way Kambas
Yahoo
