Flickr

» » » Chairul Tanjung Incar TvOne dan ANTV


BILA tidak ada halangan, Chairul Tanjung sebentar lagi bakal menjadi salah satu raja media televisi di Indonesia. Itu lantaran, ia tinggal selangkah lagi menguasai PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) yang mengoperasikan tvOne, ANTV, dan Viva.co.id.

Informasi terakhir, Chairul Tanjung alias CT sudah menyiapkan dana sebesar US$ 1,8 miliar atau Rp 17,5 triliun. "Hanya kami (pembeli) yang bisa membayar tunai seratus persen, tapi kesepakatan itu belum selesai," ujar CT, seperti dikutip Reuters.com.

CT, pemilik CT Corp akan membeli VIVA seorang diri dengan dana cash. "Kami adalah salah satu penawar yang diutamakan. Proposal kami adalah, kami ingin membeli semuanya, saku saya masih dalam," kata CT.

Belum diperoleh informasi kesepakatan apa yang belum dicapai antara keluarga Bakrie—pemilik VIVA—dengan CT. Upaya InilahREVIEW mewawancarai CT agak kesulitan. CT yang ditunggu di markas Trans TV, Jalan Tendean, Jakarta Selatan, sejak Rabu dan Kamis pekan lalu, selalu tak muncul. Hari Jumat (12/4) sore dicoba mendatangi kantor pusat Bank Mega, namun diperoleh informasi CT sedang berada di Makassar.

Komisaris Utama VIVA, Anindya Novyan Bakrie, membenarkan bahwa CT salah satu taipan media yang mengajukan penawaran untuk membeli perusahaannya. Namun, dengan kalimat diplomatis Anindya mengatakan, bagi perusahaan publik seperti VIVA, pembelian dan penjualan saham sudah biasa dilakukan di pasar modal.

“Kalau namanya perusahaan terbuka, setiap hari kan orang jual beli (saham), itu hal biasa. Setiap hari ada,” ujar Anindya, Senin pekan lalu.

Pimpinan Grup Bakrie, Aburizal Bakrie dalam wawancara dengan Financial Times awal April lalu memberi sinyal penjualan VIVA. "Apapun dijual asal harganya cocok," kata Aburizal sambil tersenyum.

Semula Bakrie dikabarkan melepas harga US$ 1,2 miliar, kemudian naik menjadi US$ 2 miliar. Namun, sumber-sumber terpercaya membisikan bahwa VIVA akhirnya dibanderol di angka US$ 1,8 miliar. Angka inilah yang sudah disiapkan CT untuk memboyong VIVA masuk dalam kandang CT Corp Trans Media Group.

Sejak beberapa bulan lalu, penjualan VIVA menjadi isu yang cukup hangat. Sejak itu pula beredar kabar bahwa beberapa taipan media mengajukan penawaran kepada Bakrie. Sebut saja Hary Tanoesoedibjo, pemilik MNC Group atau Sariaatmadja yang memiliki SCTV dan Indosiar. Dua pengusaha media ini begitu tertarik membeli VIVA.

Namun, entah kenapa belakangan Hary dan Sariaatmadja mundur. Hanya saja yang sempat didengar Hary, Bakrie batal menjual VIVA.

Hary adalah yang paling bernafsu untuk membeli saham VIVA. Pemilik MNC Group, yang mengendalikan puluhan televisi ini, kabarnya beberapa kali sempat menawar harga kepada Bakrie. "Sebagai orang media, kalau misalnya medianya bagus, ada willing buyer willing seller ya tidak apa-apa," ujarnya.

Tak hanya Hary dan Sariaatmadja yang kepincut dengan VIVA. Kompas Gramedia Group juga sempat ditawari untuk membeli saham tersebut. "Kami pernah ditawari. Namun, harganya memang kemahalan," kata Agung Adiprasetyo, Chief Executive Officer (CEO) Kompas Gramedia Group kepada Kompas.com beberapa waktu lalu. "Biarlah Pak Chairul Tanjung yang membeli."

Bakrie dikabarkan ingin menjual VIVA untuk mendapatkan dana segar dalam rangka pembelian kembali saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang ada di Bumi Plc. Maklum, Bakrie ingin ‘bercerai’ dengan Bumi Plc karena kerap berselisih dengan Nathaniel Rothschild, salah satu pemegang saham perusahaan yang tercatat di bursa efek London tersebut.

Dalam skema perceraian itu, Grup Bakrie akan menukar guling 23,8% sahamnya di Bumi Plc dengan 10,3% saham BUMI. Selain itu, mereka juga menawarkan pembelian 18,9% saham BUMI yang dipegang Bumi Plc seharga US$ 278,3 juta. Paling lambat perceraian ini akan terlaksana 30 Mei 2013.

VIVA sendiri termasuk perusahaan yang cukup bersinar di Grup Bakrie. Tahun 2012, VIVA mencatat laba bersih sebesar Rp 72,92 miliar atau naik 177% dibandingkan laba bersih tahun 2011 senilai Rp 26,26 miliar.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, Senin pekan lalu disebutkan, naiknya laba bersih itu karena pendapatan terdongkrak sebesar 25,06% menjadi Rp 1,24 triliun dari tahun sebelumnya Rp 992,63 miliar.
Kalangan analis saham memprediksi, nilai saham VIVA akan semakin bersinar jika perusahaan itu jatuh ke pelukan CT. "Teknikal tren naik, bergerak dari level support. Mencoba resistance di Rp 730. Kalau akuisisi terjadi bisa menembus Rp 1.000," ujar Probo Sujono, analis Milenium Danatama Sekuritas.

Bila VIVA jatuh ke tangan CT, ini akan menambah dua stasiun televisi yang sebelumnya dimiliki CT Corp (Trans TV dan Trans 7). Saat ini, Trans TV memiliki pangsa pasar sebesar 12% hingga 13% dan Trans7 memiliki pangsa sebesar 11%.

Ishadi SK salah satu petinggi CT Corp pernah mengatakan bahwa pihaknya akan berusaha menjadi pemimpin pasar industri pertelevisian nasional. "Kami bekerja keras untuk menjadi pemain nomor satu di pasar TV Tanah Air," ujarnya.

Sebelumnya, tanggal 3 Agustus 2011, CT juga sudah membeli detik.com (PT Agranet Multicitra Siberkom/Agrakom) senilai US$ 60 juta atau Rp 521 miliar.

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: